Kamis, 19 Maret 2009

Masjid Jami






Mesjid peninggalan kerajaan yang ada dikalimantan bart ini ada dipinggir sungai sehingga selain beribadah atau menungu waktu shalat kita bis amelihat panorama yang indah menhadap sungai.
Mesjid Jami’ adalah salah satu masjid besar peninggalan masa kesultanan Pontianak. Lokasinya berada di pinggiran sungai yang indah dan masih asli, walaupun struktur dari masjid Jami’
tersebut telah mengalami rekonstruksi. Setiap tiba waktu Sholat Wajib, KayuBelian yang masih ada di dalam mesjid turut bergema oleh suara adzan. Selama Hari Raya Islam, masjid ini menjadi pusat beribadah bagi masyarakat dan warga sekitar. Mesjid Jami’ dapat dijangkau dengan menggunakan sampan dari Pelabuhan Seng Hie atau dengan mobil melewati Jembatan Kapuas.
Keberadaan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman saat ini sepertinya mulai terlupakan. Padahal Masjid yang didirikan pada tahun 1771 M oleh Sultan Syarif Abdurrahman ini merupakan masjid tertua di Kalbar. Keberadaanya menjadi bukti sejarah dan cikal bakal berdirinya Kota Pontianak
Laporan Budianto Pontianak
MENURUT sejarah yang tertuang dalam banyak situs, salah satunya Melayu online, pendirian masjid ini dilakukan setelah selesainya pembukaan daerah baru, yang dinamai Pontianak. Jika dirunut dari awal, kisahnya bermula ketika seorang penyebar agama Islam dari Jawa keturunan Arab, al-Habib Husein meninggalkan kediamannya di Semarang pada tahun 1733 M menuju Kerajaan Matan, Kalimantan Barat sekarang. Oleh Raja Matan yang bernama Sultan Kamaludin, ia kemudian diangkat sebagai Mufti Kerajaan. Al-habib Husein kemudian dinikahkan Sultan dengan salah seorang putrinya, Nyai Tua. Dari perkawinan itu, kemudian lahir seorang putra bernama Syarif Abdurrahman.
Sejarah berdirinya masjid Jami’ ini juga ditegaskan oleh Ibrahim, Pengurus Seksi Dakwah Masjid Jami’ Pontianak. Diceritakan dia dengan versi cerita dari orang tua, pada tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi kota Perdagangan dan Pelabuhan.

"Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar