Museum Affandi

Museum Affandi diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr.

Kota Balikpapan

Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 503,3 km² (? luas Jakarta) dan berpenduduk sebanyak 559.126 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).

Pantai Pink / pink Beach

Pantai Pink atau lebih dikenal sebagai Pink Beach adalah salah satu pantai terindah di dunia. Karena warna Pasir pantainya yang berbeda dari warna pasir pantai biasanya, tak heran jika pantai ini kini menjadi primadona wisata Indonesia.

Danau Paniai Papua Barat

Danau Paniai ini memang belum dikelola dengan baik oleh pemerintah kabupaten paniai.. berbeda dengan danau sentani yang ada dikota jayapura.

Wisata kampung batu Malakasari

Kawasan seluas 50.000 m2 ini adalah lahan bekas area penambangan batu alam tradisional sampai tahun 1970, kemudian bagian-bagian cekungnya terisi air hujan sehingga membentuk danau yang memiliki panorama yang unik

Tampilkan postingan dengan label kalimantan barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalimantan barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Masjid Al Mujahidin Pontianak

 
Pembangunan Masjid Raya Mujahidin Pontianak saat ini tahap penyelesaian pemancangan tiang pondasi "Spun Pile" yang satu tiangnya bisa menahan beban sekitar 100 ton dan tahan karat, kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.

"Dari sekitar 197 titik pondasi, saat ini sudah selesai ditancapkan ke tanah sekitar 140 titik tiang pemancangan dengan kedalaman 36 hingga 40 meter," kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Kamis.

Ia menjelaskan, tahapan pemancangan tiang pondasi tersebut memang sedikit lama atau sudah berjalan enam bulan, tetapi kalau sudah selesai tahap itu, tahapan berikutnya akan lebih cepat sehingga target penyelesaian pembangunan hingga November 2013 masih bisa dikejar.

Masjid Raya Singkawang atau Masjid Raya Al-Taqwa Pemangkat


Masjid Raya Al-Taqwa Pemangkat atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Singkawang adalah salah satu masjid tertua di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, tepatnya di Kota Singkawang. Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Muslim Singkawang Pada tahun 1870, Kapitan Bawahasib Marikan, seorang pendatang dari Distrik Karikal, Calcutta, India, datang ke Singkawang untuk berdagang permata (marjan). Saat itu, Bawasahib Marican belum mendapat pangkat Kapitan. Lakon usahanya tersebut setidaknya ditekuni selama sekitar lima tahun, karena pada 1875, pendatang dari Calcutta India ini diangkat Pemerintah Belanda sebagai Kapitan di Singkawang. Di samping jabatannya, Kapitan Bawasahib Marican juga berkebun kelapa, gambir dan beternak sapi untuk memenuhi ransum tentara Belanda atau disebut Nederlands Indies Leger. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1885, Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di kawasan Pasar Baru Singkawang (yang kini tidak lagi disebut kawasan Pasar Baru). Ketika itu tempat ibadah umat Islam di Singkawang ini masih berukuran kecil dan tidak mempunyai menara.

Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di tanah miliknya yang berbentuk segitiga. Waktu itu belum ada jalan di samping lahan tersebut. Di salah satu sudut lahan itulah dibangun Masjid Raya. Sementara di dekat Masjid tersebut terdapat pula Pekong, tempat ibadahnya etnis Tionghoa yang didirikan seorang kapitan dari China. Jadi, saat itu dua orang kapitan membangun tempat ibadah berdampingan. Kendati berdampingan, para pengikutnya tetap hidup dalam keharmonisan dan kedamaian, tidak pernah terjadi pertikaian antaretnis maupun antaragama. Sekitar tahun 1927, terjadi kebakaran hebat yang membumihanguskan bangunan-bangunan, termasuk Masjid Raya dan pekong. Praktis, aktivitas perekonomian masyarakat pun tidak dapat berlangsung normal.

Tidak kurang dari 10 tahun, masyarakat Singkawang berjuang keras untuk mengembalikan kejayaannya dalam berdagang dan bercocok tanam. Hingga akhirnya kehidupan masyarakat seperti sedia kala, bahkan lebih baik lagi. Tetapi, pada 1914, pendiri Masjid Raya, Kapitan Bawasahib Marican meninggal dunia. Sehingga tidak dapat membangun kembali tempat ibadah tersebut. Posisinya diisi Cartiker Kapitan Abdul Rajak Marican yang merupakan keponakannya. Keponakan pendiri Masjid Raya Singkawang ini meninggal 1932 dan posisinya diisi Kanda SM Maiden hingga 1949. Pada masa inilah Masjid paling tua tersebut dibangun kembali.

Tepatnya, pada 1936 atau sekitar 10 tahun pasca bencana kebakaran yang tidak diketahuinya sebabnya itu, Masjid Raya didirikan kembali. Lokasinya masih di tempat semula, tempat sebelum masjid tersebut terbakar. Sedangkan pekong dibangun bukan di tempat semula atau dipindahkan. Untuk pembangunan tersebut, anak Kapitan Bawasahib Maricar, H Ahmad menyumbang lahan untuk perluasan Masjid Raya Singkawang. Lahan tersebut juga merupakan warisan dari orangtuanya. Selanjutnya anak kedua Kapitan Bawasahib Marican, BM Hanifah Marican menyumbang pembangunan satu menara Masjid Raya. Pembangunanya dilakukan pada 1953 memanfaatkan tenaga Jenawi Tahir. Selanjutnya anak ketiga Kapitan Bawasahib Marican, BM Khalid Marican juga menyumbangkan lahannya untuk memperluas areal Masjid Raya. Kendati semakin luas, bentuk areal tersebut masih segitiga.

Karena areal semakin luas, Masjid Raya pun semakin diperbesar. Rehabilitasi untuk memperbesar tempat ibadah tersebut dilakukan pada 1973. Diperluas lagi pada 1978. Kemudian direnovasi total pada 2007 dan hingga sekarang masih berlangsung. Walikota Singkawang Hasan Karman pada tahun 2010 yang lalu, akan berjanji menjadikan masjid ini sebagai tanda kota Singkawang.Sehingga, wakil walikota Singkawang, Edy R. Yacoub mengajak warga berpartisipasi untuk merampungkan masjid raya.Uniknya, masjid ini bersebelahan dengan Kelenteng Tri Darma Bumi Raya yang menunjukkan bentuk toleransi beragama masyarakat daerah tersebut.

Senin, 11 Februari 2013

Masjid Jamik Sultan Nata

 
Masjid Jamik Sultan Nata adalah sebuah masjid bersejarah di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, yang terletak di kompleks Istana Al Mukarrammah Sintang, tepatnya di Kampung Kapuas Kiri Hilir, Kabupaten Sintang. Pendirian masjid ini diprakarsai Pangeran Tunggal setelah naik tahta menggantikan Pangeran Agung (Sultan Sintang ke-17). Pada masa pemerintahannya, Islam berkembang sangat pesat. Pendirian tempat ibadah pun semakin mendesak. Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Jami Sultan Nata Sintang.

Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari penyebaran agama Islam yang terjadi di Kota Sintang. Sejak masa pemerintahan Pengeran Agung, agama Islam telah dianut oleh raja dan kerabat Kerajaan Sintang yang menggantikan agama sebelumnya, agama Hindu. Sejak saat itu, sistem pemerintahan kerajaan sintang lambat laun mengalami perubahan menjadi kesultanan Islam. Pada periode pemerintahan berikutnya, pada masa Pangeran Tunggal (anak Pangeran Agung), kebutuhan akan masjid terasa makin mendesak. Hal ini tak lepas dari meningkatnya jumlah penganut agama Islam di sekitar istana. Pangeran Tunggal lalu mendirikan sebuah masjid sederhana dengan kapasitas sekitar 50 orang. Masjid inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Jamik Sultan Nata Sintang. Dari konstruksi awal masjid yang dibangun oleh Pangeran Tunggal, Sultan Nata kemudian melakukan perbaikan dan perluasan masjid pada tahun 1672 M. Sultan Nata adalah raja yang menggunakan gelar "sultan" untuk pertama kalinya dalam sejarah Kerajaan Sintang pada masa sebelumnya (masa Hindu), gelar raja masih menggunakan sebutan Abang, Pangeran, atau Raden. Sesuai nama pendirinya, maka masjid ini kemudian diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Sintang dengan nama Masjid Jamik Sultan Nata Sintang pada tahun 1987.
 
Masjid Sultan Nata menggunakan arsitektur rumah panggung khas pesisir sungai. Konstruksi bangunan masjid seluruhnya terbuat dari kayu. Pondasi, rangka bangunan, balok gelegar, penutup atap, dan papan lantai terbuat dari kayu belian. Masjid Sultan Nata sebetulnya telah mengalami beberapa kali renovasi, namun delapan tiang penyangga yang terbuat dari kayu belian tetap dipertahankan sesuai aslinya hingga saat ini. Tiang berupa kayu silinder setinggi lebih dari 10 meter tersebut tetap berdiri kokoh meski usianya telah melampaui tiga abad. Ada cerita berbalut mistik ihwal tiang penyangga ini. Sekitar tahun 1997, ketika Sungai Kapuas surut, muncul sumber air dari salah satu tiang penyangga yang konon dapat memberi kesembuhan, sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk meminumnya. Namun sayang, saat ini, sumber air itu telah ditutup.

Bangunan masjid ini memiliki tiga susun atap. Atap pertama dan kedua berbentuk limas, sedangkan atap ketiga berbentuk kerucut bersegi delapan. Bentuk atap kerucut ini juga dipakai pada atap dua menara kembar yang berada di samping masjid. Tiap bagian di dalam masjid dibalut dengan cat warna putih dengan sedikit garis-garis hijau di beberapa bagian, seperti pada jendela, dasar tiang, serta dinding. Sebagai pemanis hiasan, korden penutup jendela dipilih yang berwarna kuning, warna khas Melayu. Sementara di pojok masjid, terdapat bedug berusia ratusan tahun yang terbuat dari sebatang pohon utuh. Setelah renovasi pada tahun 2000, masjid ini dilengkapi dengan taman rumput yang cukup luas, dengan hiasan pohon-pohon palem yang rindang.

Di bagian muka masjid, juga dibangun jembatan penyeberangan dari kayu yang menghubungkan masjid dan istana yang dipisahkan oleh jalan beraspal. Sejak tahun itu pula, masjid ini ditetapkan sebagai situs cagar budaya Kabupaten Sintang. Di masjid ini, para pelancong dapat menyaksikan susunan penghulu/menteri agama Kerajaan Sintang dari masa ke masa. Selain itu, takmir masjid juga menyediakan buku sederhana yang menceritakan sejarah berdirinya masjid serta renovasi-renovasi yang pernah dilakukan.

Masjid Jami Keraton Sambas


 
Masjid Jami Keraton Sambas adalah masjid yang berada di komplek keraton Kesultanan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Masjid yang resminya bernama Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat.
 
Masjid Jami Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan musala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi,kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi masjid jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 M. Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat

Jumlah tiang tengah bagaian dalam Mesjid Jami' berjumlah delapan batang yang bermakna pendirinya adalah Sultan ke-8 atau Sultan ke-14 garis Kesultanan Kerajaan Sambas[2]. Semua dari bangunan ini juga terbuat dari kayu belian.

Masjid Djami Keraton Landak

 
Masjid Djami Keraton Landak adalah sebuah masjid bersejarah di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, yang berlokasi di kompleks Keraton Landak yang terletak di Ngabang, Kabupaten Landak. Kompleks keraton milik Kerajaan Landak ini terdiri dari tiga bagian yang saling melengkapi, yakni istana kerajaan, masjid, serta makam raja dan para kerabatnya. Terletak di utara istana, Masjid Djami' Keraton Landak masih terawat dengan baik sampai sekarang.Sejarah masjid ini bermula sejak masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895-1899) atau raja Landak ke-21. Pada awalnya, Masjid Djami Keraton Landak terletak di tepi Sungai Landak atau di timur istana. Kemudian, beliau memerintahkan agar masjid yang dibangun dengan bahan utama kayu belian khas Kalimantan ini dipindahkan ke sebelah utara istana. Bangunan masjid yang lama kini sudah tidak ada lagi. 
 
Saat ini, lokasi masjid lama telah menjadi sebuah kompleks pondok pesantren untuk belajar agama Islam bagi anak-anak di sekitar istana. Kala itu, setelah masjid dipindahkan ke utara istana, Bilal Achmad menjadi Maha Sultan Imam masjid sampai masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulhamid (1922-1943) atau Sultan Landak ke-22. Selanjutnya, Bilal Achmad digantikan oleh Osu Anang dari Banjor hingga Jepang berkuasa di Kalimantan Barat pada medio tahun 1943. Sebagai cagar budaya dan situs sejarah, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1980-an dan pemerintah daerah pada tahun 2000-an.

Di Masjid Djami' Keraton Landak yang memiliki luas bangunan sekitar 400 m² ini, wisatawan akan menangkap nuansa religiusitas masyarakat muslim di Desa Pedalaman yang berada di sekeliling kompleks istana. Apabila mengunjungi masjid ini di kala hari melangkah senja, saat lazuardi di ufuk barat mulai memerah dan menjelang adzan magrib berkumandang, tampak orang-orang mulai mendatangi masjid. Orang tua, pemuda-pemudi, para santri pesantren yang tak jauh dari istana, serta anak-anak kecil berjalan dari berbagai arah dan satu demi satu menuju pintu masjid yang menghadap ke timur. Di dalam masjid itu, jamaah puteri menempati bagian kiri yang disekat dengan tirai kain berwarna putih. Sementara, jamaah laki-laki membuat shaf di bagian tengah depan dan diikuti anak-anak di belakang barisan laki-laki dewasa. Mereka tampak khusuk melaksanakan salat magrib. Selesai sembahyang, sebagian dari mereka biasanya meluangkan waktunya untuk berdzikir sejenak.

Memasuki masjid ini, wisatawan akan mendapati konstruksi bangunan masjid yang tampak sederhana namun kokoh. Dengan kayu belian sebagai unsur utama dan atap sirap yang berbahan serupa, masjid yang memiliki empat pilar dari kayu utuh ini tetap memesona. Hal ini lantaran di tiap sudutnya nampak dihiasi ornamen-ornamen dari kayu berukir ayat-ayat suci Al-Quran dan motif-motif khas Melayu. Perpaduan warna biru muda dan putih gading pada dinding dan pilar-pilar masjid juga menambah sejuk gambaran keseluruhan masjid.Pangeran Ratu Ismahayana Landak, Gusti Suryansyah sempat mengusulkan untuk mengubah status Masjid Jami’ Keraton Ismahayana menjadi Masjid Agung Keraton Ismahayana Landak, namun mengundang pro dan kontra. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju.

Masjid Babul Chair Ketapang

Masjid Babul Chair adalah sebuah masjid yang terletak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tepatnya di kelurahan Tengah, kecamatan Delta Pawan.Nama Babul Chair memang tak asing lagi bagi masyarakat Kota Ketapang. Maklum, keberadaannya yang persis berada di tengah-tengah Kota Ketapang, di tengah hiruk pikuk serta kesibukan masyarakat di pusat Kota Ale-Ale. Keberadaannya bak menjadi saksi pergantian waktu yang terjadi di Kota Ketapang pada perkembangannya. Setiap waktu masyarakat di sekitar Kota Ketapang, akan selalu dapat melihat serta mendengar lantunan azan dari bangunan bersejarah tersebut. Masjid ini dipercaya masyarakat di kawasan utara sebagai yang tertua setelah Masjid Jamik Kerajaan Matan di Kelurahan Kauman.

Berdasarkan cerita yang diungkapkan H Amri Has, ketua Masjid Babul Chair, masjid ini terbangun atas prakarsa beberapa tokoh agama di kawasan Matan Hilir Utara. Masyarakat di kawasan seberang kota lama Kerajaan Matan ini, di masa lalu jika hendak bersembahyang Jumat, harus menyeberang ke Kampung Kaum. Maklum, masjid satu-satunya pada saat itu hanya berada di Kampung Kaum (Kelurahan Kauman saat ini)[2]. Ke sanalah seluruh masyarakat Ketapang yang hendak melaksanakan Salat Jumat pada setiap Hari Jumat. Akhirnya karena merasa keberatan untuk selalu menyeberang pada setiap pelaksanaan Ibadah Jumat, masyarakat di kawasan Kecamatan Delta Pawan, Muara Pawan, dan Matan Hilir Utara saat ini bersepakat membangun sebuah masjid. Masjid yang ada sebetulnya kelanjutan dari sebuah surau yang dibangun di depan lokasi pemotongan sapi saat ini, tidak jauh dari lokasi Masjid Babul Chair.

Entah dengan siapa perizinan kemudian diajukan, kemudian pada 1948 dimulai pembangunan masjid tersebut. Lokasinya dipilih tepat di pinggir Jalan Darussalam, atau saat ini dikenal sebagai Jalan MT Haryono. Ketika itu diungkapkan Amri, Jalan Darussalam merupakan jalan pengerasan berupa tanah yang dilapisi kulit ale-ale. Masa ini merupakan masa peralihan, setelah kekosongan pemerintahan di Kerajaan Matan pada 1943, ketika Panembahan Gusti Muhammad Saunan ditangkap bala tentara Jepang dan tidak kembali sampai kini. Tahun 1948 merupakan tahun pemerintahan Kerajaan Matan di bawah Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan. Amri sendiri lebih senang menyebut masa itu sebagai Jaman NICA, sehingga bisa jadi perijinan untuk pembangunan rumah ibadah juga tak terlepas dari mereka. Meskipun sejarah mencatat masa 1948, Kerajaan Matan dipimpin tiga pangeran untuk mengatur pemerintahan. Mereka adalah Uti Halil bergelar Pangeran Mangku Negara, Uti Aplah bergelar Pangeran Adipati, serta Uti Kencana bergelar Pangeran Anom Laksamana. Mereka inilah yang disebut Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan.

Beberapa tokoh yang masih diingat sebagai yang berjasa dalam pembangunan masjid tersebut seperti H. Hasan Zulkifli, H. Abdussamad, Asri, Asri Yatim, serta Sabran, kepada Kampung Kantor saat itu. Mereka kemudian bersama-sama memulai pembangunan masjid yang dikerjakan secara bertahap. Masjid itu sendiri selesai dikerjakan pada 1953 dan diresmikanlah penggunaannya untuk pelaksanaan Salat Jumat. Amri menyebut papan nama pada bagian depan masjid sampai saat ini belum mengalami pergantian.

Sementara beberapa bagian lain dari masjid memang telah banyak yang berubah, terkecuali empat tiang penyangga di tengah-tengah masjid. Sayangnya keaslian dari empat tiang tersebut telah terbungkus papan-papan yang terhias sedemikian rupa. Kubah bangunan tersebut sebetulnya, dikatakan Amri, juga masih asli. Keberadaannya telah sedikit ditinggikan, sehingga ruang dalam masjid terasa lebih besar. Sejak diresmikan, kemudian ditunjuklah H Hasan Zulkifli sebagai imam pada masjid tersebut. Masjid ini kemudian menjadi tempat yang didatangi jamaah dari kawasan utara Kota Ketapang, pada saat itu. Mereka tidak perlu lagi menyeberang ke Kampung Kaum hanya untuk melaksanakan Salat Jumat[2]. Kini masjid tersebut berperan sebagai tempat beribadah bagi mereka yang disibukkan dengan hiruk pikuk sentra perekonomian di tengah-tengah Kota Ketapang. Keberadaannya cukup menyejukkan di tengah masyarakat yang tengah larut dengan kesibukan duniawinya masing-masing.

Sabtu, 15 Desember 2012

Kota Pontianak

 
Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama ?? (Pinyin: Kundian) oleh etnis Tionghoa di Pontianak. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu, Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang membelah kota disimbolkan di dalam logo Kota Pontianak. Nama Pontianak yang berasal dari Bahasa Melayu ini dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.

Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan Kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan Sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur. Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak.Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.

Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.

Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan Jepang di Pontianak. Kota Pontianak dipimpin oleh seorang wali kota. Saat ini Walikota Pontianak dijabat oleh H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. dengan Paryadi, S.Hut. sebagai wakilnya. Keduanya merupakan wali kota dan wakil wali kota pertama yang dipilih langsung setelah, dengan dukungan PPP dan PKPI, memenangkan 34,5% suara pada Pilkada 2008 lalu, mengalahkan enam pasangan kandidat lainnya.  . Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter diatas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan. Struktur tanah kota merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).

Rata–rata kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum 53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%. Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Mei dan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari. Secara administratif, kota Pontianak dibagi atas enam kecamatan, yaitu Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Kota, dan Pontianak Tenggara, yang kemudian dibagi lagi menjadi 29 kelurahan.Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kota Pontianak berjumlah 554.764 jiwa, terdiri dari 277.971 (50,1%) laki-laki dan 276.793 (49,9%) perempuan. Suku bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri dari Cina (31,2%), Melayu (26,1%), Bugis (13,1%), Jawa (11,7%), Madura (6,4%), Dayak, dan lainnya.

Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam (75,4%), sisanya memeluk agama Buddha (12%), Katolik (6,1%), Protestan (5%), Konghucu (1,3%), Hindu (0,1%), dan lainnya (0,1%). Hampir seluruh penduduk Kota Pontianak memahami dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun bahasa ibu masing-masing juga umum digunakan, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Tiociu, Bahasa Khek, dan bahasa daerah lainnya. Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Pontianak yang telah terdata selama tahun 2005 adalah 34 perusahaan. Tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan industri tersebut berjumlah 3.300 orang yang terdiri dari pekerja produksi 2.700 orang dan pekerja lainnya atau administrasi 600 orang. Perusahaan industri besar atau sedang yang terletak di Kecamatan Pontianak Utara menyerap tenaga kerja terbesar, yaitu 2.952 orang.

Nilai keluaran yang dihasilkan dari perusahaan industri besar atau sedang adalah sebesar 1,51 triliun rupiah, dimana perusahaan industri besar atau sedang yang berada di Kecamatan Pontianak Utara yang didominasi oleh perusahaan industri karet, sedangkan nilai keluaran yang terkecil berasal dari perusahaan yang terdapat di Kecamatan Pontianak Kota, senilai 2,85 milyar Rupiah. Untuk Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari seluruh perusahaan industri besar /sedang di Kota Pontianak selama tahun 2005 adalah sebesar 217,57 milyar Rupiah dan pajak tak langsung yang diperoleh adalah sebesar 462,78 juta Rupiah, sedangkan NTB atas Biaya Faktor yang diperoleh adalah sebesar 217,10 milyar Rupiah.

Jumlah unit usaha industri, tenaga kerja, besarnya nilai investasi dan nilai penjualan dari sentra industri kecil jenis Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) terlihat bahwa sentra industri kecil jenis IHPK terbanyak adalah usaha industri makanan ringan yang terpusat di Kelurahan Sungai Bangkong dengan tenaga kerja yang diserap sebanyak 329 orang, nilai investasinya mencapai 249,50 juta rupiah dan nilai penjualannya sebesar 780,50 juta rupiah. Sedangkan industri anyaman keladi air pada tahun 2005 ini hanya memiliki 16 unit usaha dengan nilai investasi 17,5 juta Rupiah dan nilai penjualan 110 juta Rupiah yang terletak di Tanjung Hulu, Pontianak Timur. Pariwisata Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak, yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut Gawai dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.

Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota dengan pariwisata sungai. Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Pwe Ki Mue atau bubur pesawat (bubur yang ditambahkan telur, daging babi, dan lemak dengan cita rasa khas), Sambal Goreng Tempoyak, Tau Swan (sup kacang hijau ditambah potongan-potongan kue yang digoreng dan mirip kerupuk ca kue), Sio Bi (seperti siomay, namun memiliki cita rasa tersendiri dengan sausnya yang juga berbeda rasanya), Sotong Pangkong. Tun Koi (sup sari pati ayam dengan kunyit dan ginseng),Yam Mi (sejenis mie namun sangat kecil dengan lauk khas di atasnya). 
 
Kota Pontianak melalui Bandar Udara Supadio terhubung dengan beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Batam, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan internasional langsung ke Kuching dan Singapura. Dari Pontianak juga dapat dilayani penerbangan perintis ke kota kabupaten di Kalimantan Barat seperti Ketapang dan Putussibau. Bandar Udara Supadio terletak di luar Kota Pontianak tepatnya di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.Pelabuhan Pontianak dapat melayani kapal-kapal barang maupun penumpang. Dahulu melalui dermaga ini sering melayani kapal penumpang menuju Jakarta, Ketapang, Landak, Sanggau, dan Putussibau.Sistem transportasi darat Kota Pontianak dilayani oleh minibus angkutan kota yang biasa disebut oplet, taksi, dan beberapa rute dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh oplet yang menghubungkan beberapa terminal. Untuk keberangkatan jalan darat ke luar kota dilayani di Terminal Batulayang.

Melalui jalan darat pula dilayani bus antar negara, yakni ke Kuching dan ke Brunei. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia menjadi mungkin melalui Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.