Kamis, 14 Februari 2013

Masjid Hunto Sultan Amay

 
Masjid Hunto adalah salah satu masjid tertua di Gorontalo (300 tahun). Masjid ini terletak di desa Siendeng di kota Gorontalo. Di masjid ini, ada sumur dan beduk  yang memiliki umur sama seperti Mesjid itu sendiri. Hunto Sultan Amay merupakan Mesjid tertua di Gorontalo. Mesjid ini berdiri pada tahun 899 Hijriah bertepatan 1495 Masehi. Dibalik tiang-tiangnya yang kokoh Mesjid ini memiliki kisah sejarah yang unik dan menarik untuk diketahui. H Syamsuri Kaluku yang biasa di sapa Pak Haji oleh masyarakat sekitar merupakan satu diantara jemaah yang mengetahui betul cerita berdirinya Mesjid tua itu. Ia mengisahkan dan mengungkapkan beberapa sejarah Mesjid Sultan Amay yang menjadi tempat pusat awal perkembangan agama Islam.

"Islam sebenarnya sudah masuk di Gorontalo semenjak 1300an Masehi, hanya saja perkembangannya nanti pada tahun 1490an tepatnya pada saat Mesjid ini berdiri," ujar Pak Haji mengawali kisah cerita Mesjid tua pada tribungorontalo.com, Minggu (24/7). Lanjutnya sebelum Mesjid tersebut berdiri wilayah yang kini telah menjadi Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo dipimpin oleh Raja Amay seorang pemimpin muda, ganteng, dan masih lajang. Raja dan para pengikutnya saat itu menganut kepercayaan animisme. Patung, pohon, dan hal-hal yang dianggap mistik merupakan sesembahan masyarakat saat itu. Sang Raja kemudian jatuh cinta pada putri raja. Putri Boki Antungo yang merupakan putri Raja Palasay, gadis cantik asal Mautong Sulawesi Tengah.

Berniat hendak meminang sang putri, Raja Amay kemudian mendatangi langsung sang Raja Palasay ayahanda sang putri. Ungkapan ingin memimang pun disampaikan langsung dan Raja Palasay menerima baik niat Raja Amay. Raja Palasay yang ketika itu merupakan pengikut agama Islam yang taat, kemudian mengajukan satu syarat kepada Raja Amay. Jika disepakati maka Raja Palasay merestui anaknya dinikahi Raja Amay. "Satu syarat yang diajukan yaitu Raja Amay harus masuk Islam dengan bukti Raja Amay harus mendirikan Mesjid," lanjut Pak Haji yang juga merupakan Pengurus Badan Ta'mirul Mesjid Hunto Sultan Amay.

Permintaan Raja Palasay kemudian disetujui oleh Raja Amay. Pembangunan Mesjid pun dilakukan di Gorontalo. Mesjid tersebut kemudian diberi nama Hunto Sultan Amay. Hunto singkatan dari Ilohuntungo berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam ketika itu. Sebelum menikah Raja Amay mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amay dengan terang-terangan mendeklarasikan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. Pada pesta tersebut Raja Amay meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. "Tepatnya dihalaman Mesjid ini, digelar pesta dan sumpah adat dengan hidangan babi, darah babi kemudian dijadikan simbol sumpah adat yang diteteskan dibagian kepala (jidat) dengan isi sumpah hari tersebut merupakan hari terakhir rakyatnya memakan babi," ungkap Pak Haji dengan semangat.

Usai proses sumpah adat, Raja Amay kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Pernikahan Raja Amay dan Putri Boki Antungo pun dilakukan di Mautong dan Mesjid Hunto Sultan Amay menjadi hadiah pernikahan Raja Amay kepada istrinya. Syekh Syarif Abdul Aziz ahli agama Islam dari Arab Saudi didatangkan langsung oleh Raja Amay untuk menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan sampai saat ini masih terbukti sebagian besar masyarakat Gorontalo menganut kepercayaan agama Islam atas upaya dari Raja Amay. Saat ini bentuk dan ukuran Mesjid Hunto Sultan Amay telah dipugar dan diperbesar tanpa menghilangkan keasliannya. Diantaranya mimbar yang biasa digunakan untuk berkhotbah dan tiang-tiang Mesjid yang masih kokoh berdiri serta ornamen-ornamen beraksen kaligrafi Arab.

Adapula bedug yang terbuat dari kulit kambing yang sudah mulai menipis dengan kondisi telah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga saat ini. Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya asli dan telah berumur lebih dari 600 tahun. Peninggalan asli lainnya adalah sumur tua yang hingga kini masih digunakan oleh jemaah dan masyarakat sekitar. Posisinya terletak di samping kiri mesjid, berdekatan dengan tempat wudhu. Sumur tua tersebut terbuat dari kapur dan putih telur Maleo dengan diameter lebih dari satu meter dan ketinggian mencapai tujuh meter. Kondisi cuaca Gorontalo yang sering dilanda musim panas berkepanjangan tidak mempengaruhi kondisi airnya yang terus melimpah dan jernih. Masyarakat setempat pun meyakini air sumur tua Mesjid Hunto Sultan Amay keramat dan sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.

Luas keaslian Mesjid 144 meter persegi tapi sekarang sudah lebih besar. Ukuran aslinya itu merupakan wilayah pusatnya dan masih tetap asli sampai sekarang. Dilakukan perbaikan dikarenakan sudah rusak dan dipercantik kembali tanpa menghilangkan keasliannya Area Mesjid yang telah diperlebar diantaranya dibagian depan dan sebelah kanan Mesjid yang dijadikan ruang shalat  wanita. Serta ada penambahan bangunan yang hingga kini dalam proses pembangunan di lantai dua. "Rencananya lantai dua juga untuk wanita, Insya Allah puasa ini sudah bisa digunakan," harapnya. Tidak hanya air sumur tua, Mesjid ini pun diyakini keramat sehingga banyak yang datang berkunjung dan berziarah. Tepat di mihrab berbatasan dengan tempat posisi Imam berdiri merupakan makam Sultan Amay.

"Ada batasnya dan sudah di atur antara kuburan Sultan Amay dan tempat posisi Imam berdiri biar tidak terkesan kita menyembah beliau (Raja Amay)," jelas pak Haji sambil menunjukkan posisi tempat imam dan kuburan Raja Amay berada. Lokasi mimbar tersebut sering mengeluarkan aroma yang harum alami tanpa pewangi buatan. Sedangkan dibagian belakang Mesjid merupakan kuburan tua termasuk Syekh-Syekh zaman dulu yang turut serta menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Bentuk keramat lain biasanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang datang dari kalangan peziarah. Biasanya dilihat dari tingkat keimanannya masing-masing, semakin tinggi imannya maka semakin tinggi pula ujiannya.

Berdasarkan pengalaman yang terjadi terdengar suara orang menangis di mimbar, ada yang melihat banyak orang lagi shalat tetapi sebenarnya tidak ada seorangpun didalam Mesjid. Bahkan ketika shalat sendiri tiba-tiba ada suara dari belakang membalas kata amin atau salam. "Cerita-cerita seperti itu datang dari orang-orang yang berkunjung kesini (Mesjid Hunto Sultan Amay). Kalau niatnya baik ujiannya lain semata-mata menguji keimanan tapi kalau tidak baik biasanya ujiannya tidak enak, seperti tidur sebaiknya jangan disini karena ini tempat ibadah," tutupnya.(susanty)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar