Selasa, 12 Februari 2013

Masjid Al Kautsari

 
Masjid Al Kautsari merupakan bangunan pertama di kompleks Pondok Pesantren Al-Aziziyah yang terletak tidak jauh dari Bandara Selaparang, Mataram, Lombok. Dengan jarak tempuh hanya sekitar 10 menit dari bandara, masjid ini cukup potensial untuk menjadi landmark wilayah setempat. Keberadaannya juga mewakili semangat beribadah masyarakat sekitar yang sangat kuat. Kala masjid belum selesai dibangun pun, berbagai kegiatan ibadah dan dakwah sudah dilaksanakan. Shalat berjamaah ditegakkan meski tanpa penerangan listrik, kajian kitab-kitab Islam ditekuni walaupun beralaskan anyaman daun kelapa (kelangsah), dan berbagai aktivitas dakwah lainnya.

Ada cerita menarik terkait syiar Islam dalam proses pembangunan masjid. Kala itu sebagian masyarakat sekitar masih memercayai hal-hal gaib seperti makam keramat dan sebagainya. Konon di tempat tersebut terdapat sebuah batu yang dianggap sakral dan dikenal dengan nama “Batu Colet”. Seiring berjalannya proses pembangunan masjid, batu tersebut menghilang. Masyarakat sekitar pun gempar. Belakangan diketahui, batu tersebut sengaja diambil oleh seorang santri untuk ditanam dalam pondasi masjid. Tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian aqidah umat Islam di sana.

Masjid Al Kautsari juga dikembangkan beberapa kali sejalan dengan pesatnya kemajuan Pondok Pesantren Al-Aziziyah. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan diberi nama Al-Kautsari. Nama Al Kautsari ini diambil dari perpaduan dua nama, yaitu nama Telaga Al-Kautsar yang berada di surga dan nama penyandang dana pembangunan masjid, Bapak Haji Bhakti Kasri. Salah satu keunikannya terletak pada kumandang suara azan. Biasanya azan hanya dikumandangkan sebanyak lima kali dalam satu hari. Namun, di masjid ini azan dikumandangkan sebanyak enam kali. Selain untuk shalat wajib, azan juga dikumandangkan pada pengujung malam untuk shalat tahajud.

Dari sisi bangunan, ciri khas Masjid Al Kautsari adalah kubah bulat mengerucut dengan sapuan warna putih cerah beraksen garis diagonal biru dan dua menara. Dua menara yang menjulang setinggi 27 meter ini bermakna dua warisan Rasulullah Saw., yakni Al-Quran dan Al-Hadis. Bagian dalam masjid juga tampak sangat menawan dengan adanya tiang penyangga berwarna hijau granit yang dikombinasikan dengan warna cokelat keemasan pada aksen tiang dan dinding masjid. Selain itu, bagian dalam kubah yang diberi gambar langit juga mrenambah kesan megah.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar