Jumat, 31 Mei 2013

Masjid Agung Kebumen

 
Masjid Agung Kebumen berlokasi disebelah barat alun-alun Kebumen, berdiri diatas tanah wakaf seluas 4.397 meter persegi, dengan wakifnya Simbah K H Imanadi, Penghulu Landrat 1 (pertama) Kebumen, sekaligus menjadi Imam Masjid tersebut. Masjid ini dibangun pada tahun 1838 M, selang 4 tahun kemudian dibangun serambi masjid yakni pada tahun 1258 H / 1842 M * Masjid Agung Kebumen, meskipun telah mengalami rehabilitasi dan penambahan fasilitas serta sarana fisik lain, namun bangunan utama / pokok Masjid baru mengalami pembangunan secara total pada tahun 2003 / 20o4 M, dibangun berlantai 2 namun arsitekturnya tidak berubah, khas budaya Jawa-bentuk Joglo.
 
Keberadaan Masjid Agung Kauman Kebumen tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Imanadi, putra Kyai Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran abdurrahman alias Kyai Marbut Roworejo. Dialah pendiri Masjid Agung Kebumen yang kini sudah berumur 176 tahun. Makam ulama yang diyakini hidup antara tahun 1775-1850 M itu berada di Dusun Pesucen, Desa Wonosari, Kebumen.  Belum ada referensi tertulis yang bisa dijadikan rujukan untuk menyingkap sejarah berdirinya Maskid Agung Kauman Kebumen. Sumber yang bisa dijadikan patokah adalah cerita lisan turun temurun, termasuk dari keturunan K.H. Imanadi yang masih hidup.

K.H. Imanadi merupakan salah satu punggawa Pangeran Diponegoro yang gigih melawan penjajah. Dia diyakini sebagai seorang ahli Fiqih dan hukum ketatanegaraan. Adipati Arumbinang ke-IV yang menjadi penguasa Kebumen saat itu berkenan mengeluarkan K.H. Imanadi dari penjara karena menjadi tahanan politik Belanda. Arumbinang IV konon mendapat wangsit jika ingin kuat maka harus menemui dan bekerja sama dengan K.H. Imanadi. Bahkan K.H. Imanadi diangkat menjadi Penghulu Landrat atau Kepala Depag dan Pengadilan Agama pertama di Kebumen.

Salah satu keturunan ke-6 K.H. Imanadi, M. Sudjangi menuturkan, saat perang Diponegoro (1825-1830), K. H. Imanadi yang paling gigih menentang Belanda. Saat itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikuasai Belanda. Penjajah tersebut mengangkat adik Pangeran Diponegoro menjadi Hamengkubowono ke-IV (1814-1822 M). Padahal mestinya Pangeran Diponegoro yang berhak menjadi Sultan.

Kegigihan Imanadi yang pernah bermukim di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji melanjutkan perjuangan ayahnya K. Nurmadin dan kakeknya Pangeran Abdurrahman atau K. Marbut. K. Marbut diyakini saudara kandung Pangeran Diponegoro yang juga putra kandung Hamengkubuwono ke-3.
Saat itu, Pangeran Abdurrahman diperimtah Keraton Ngayogyakarta untuk mencari kakak kandungnya yakni Kyai Mursid yang pergi entah kemana. Dia kontra dengan Keraton yang telah dikuasai Belanda. Singkat cerita, Pangeran Abdurrahman bertemu dengan Kyai Mursid di tempat lain yang sekarang dinamai desa Roworejo.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar