Rabu, 13 Maret 2013

Masjid Agung Jami Malang

 
Masjid Agung Jami’ berada di Jalan Merdeka Barat No 3 Malang, provinsi Jawa Timur. Letaknya cukup strategis dipusat kota. di sebelah barat alun-alun pusat kota Malang. Di sebelah selatan masjid terdapat gedung Bank Mandiri (eks. Bank Bumi Daya) dan di sebelah utara terdapat bangunan kantor Asuransi Jiwasraya.Masjid ini dipercaya sebagai satu dari 3 masjid tua di propinsi Jawa Timur yang di anggap sebagai tempat Mustajabah, atau tempat dimana doa doa dari hamba hamba yang beriman akan dikabulkan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dua masjid lain nya adalah Masjid Ampel Surabaya, Masjid Jami’ Pasuruanpada .
 
Pada awal berdirinya Masjid Agung Jami’ Malang masih bernama Masjid  Jami’ Malang. Sebagai masjid utama di Kota Malang, Masjid Agung Jami’ menjadi institusi yang amat penting dalam kehidupan umat Islam. Selain itu, masjid merupakan sarana keagamaan yang memiliki makna strategis bagi umat Islam, tidak saja dalam masalah ritual keagamaan tapi juga berkaitan dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan, sosial dan budaya dalam arti luas. Masjid Agung Jami’ Malang didirikan pada tahun 1890 M di atas tanah Goepernemen atau tanah negara sekitar 3.000 m2. Menurut prasasti yang ada, Masjid Agung Jami’ dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun tahun 1890 M, kemudian tahap kedua dimulai pada 15 Maret 1903, dan selesai pada 13 September 1903. Bangunan masjid ini berbentuk bujursangkar, berstruktur baja dengan atap tajug tumpang dua, dan sampai saat ini bangunan asli itu masih dipertahankan keberadaannya.

Dari bentuknya, Masjid Agung Jami’ Malang mempunyai dua gaya arsitektur, yaitu arsitektur Jawa dan Arsitektur Arab. Gaya arsitektur Jawa terlihat dari bentuk atap masjid bangunan lama yang berbentuk tajug. Sedangkan gaya arsitektur Arab terlihat dari bentuk kubah pada menara masjid dan juga konstruksi lengkung pada bidang-bidang bukaan pintu dan jendela. Pada dasarnya seluruh bagian bangunan Masjid Agung Jami’ Malang mulai batas suci adalah sakral. Hal ini tersirat dengan adanya perbedaan ketinggian lantai yang terlihat mencolok, dimana bagian lantai bangunan yang sakral kurang lebih 105 cm dari muka tanah bangunan di sekitarnya. Di bagian mihrab (tempat imam) lebih sakral lagi, hal ini tersirat dengan peninggian lantai pada bagian tersebut. Bahkan sampai sekarang di belakang mihrab masih ada beberapa makam leluhur pendiri masjid.

Bangunan Masjid ini di topang oleh empat sokoguru utama yang terbuat dari kayu jati dan 20 tiang yang bentuknya dibuat  mirip dengan 4 kolom itu, dibangun dengan penuh tirakat dan keihlasan para pendirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meski Takmir Masjid Agung Jami’ Malang melakukan renovasi terhadap bangunan masjid bangunan asli masjid tetap dilestarikan.  Dalam menjalankan salah satu fungsinya sebagai pusat kegiatan dakwah dan pusat pengembangan budaya, serta juga sebagai pusat informasi sebagai upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan umat Islam, ditengah-tengah meningkatnya serangan faham sekulerisme, pendangkalan agama dari berbagai sudut yang semakin gencar dari mulai media cetak, media elektronik, kegiatan budaya, promosi kenakalan remaja melalui penggunaan narkoba, provokasi pertikaian antar massa dan lain sebagainya. Untuk merespon serangan serangan pemikiran tersebut dengan bijaksana. Takmir masjid Agung Jami’ Malang terpanggil untuk memberikan satu alternativ informasi dan dakwah Islam dengan mendirikan Radio Madina FM 99.8 dengan harapan menjadi referensi ummat Islam di Malang Raya dan sekitarnya dalam mempelajari dan mendalami ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW.

Masjid Agung Jami’ Malang menyelenggarakan pengajian umum secara rutin berupa kuliah subuh setiap hari dan pengajian bakada Magrib yang isi oleh para kyai kyai ternama kota Malang. Kegiatan remaja masjid di Masjid Agung Jami’ Malang ini juga cukup semarak. Untuk penyediaan air bersih bagi semua aktivitas masjid, takmir masjid Agung Malang sudah membangun sebuah sumur bor artesis sedalam 205 meter. Sumur artesis tersebut sudah mengeluarkan air sendiri meski tanpa menggunakan pompa dengan debit mencapai 15 liter per detik. Berdasarkan hasil uji oleh PDAM kota Malang, air dari sumur artesis ini memenuhi syarat untuk langsung diminum. Air itu mengandung alkalinitas (Ph) 273.31, kandungan total dissolved water (TDS) mendekati kandungan TDS air zam-zam. TDS air artesis masjid jami sebesar 437 sedangkan air zam-zam 430 TDS.

Pengeboran sumur mulai dilakukan hari Rabu, 27 Januari 2010M /11 Muharram 1431H. Dengan dana sebesar Rp 150 juta ditanggung sepenuhnya oleh seorang dermawan.  Dan air dari sumur artesis tersebut baru keluar dengan sendirinya tanpa pompa di hari ke 41 pekerjaan pengeboran, hari Rabu, 10 Maret 2010M / 24 Rabiul Awwal 1431H Sekitar jam 23.00 WIB justru di saat tidak ada lagi pekerjaan pengeboran.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar