Museum Affandi

Museum Affandi diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr.

Kota Balikpapan

Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 503,3 km² (? luas Jakarta) dan berpenduduk sebanyak 559.126 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).

Pantai Pink / pink Beach

Pantai Pink atau lebih dikenal sebagai Pink Beach adalah salah satu pantai terindah di dunia. Karena warna Pasir pantainya yang berbeda dari warna pasir pantai biasanya, tak heran jika pantai ini kini menjadi primadona wisata Indonesia.

Danau Paniai Papua Barat

Danau Paniai ini memang belum dikelola dengan baik oleh pemerintah kabupaten paniai.. berbeda dengan danau sentani yang ada dikota jayapura.

Wisata kampung batu Malakasari

Kawasan seluas 50.000 m2 ini adalah lahan bekas area penambangan batu alam tradisional sampai tahun 1970, kemudian bagian-bagian cekungnya terisi air hujan sehingga membentuk danau yang memiliki panorama yang unik

Tampilkan postingan dengan label gorontalo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gorontalo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

Masjid Baiturrahman Limboto

 
Masjid Agung Baiturrahman merupakan yang terbesar di Kabupaten Gorontalo. Masjid ini terletak di pusat kota Limboto. Bersama Menara Keagungan Limboto yang berada tepat di sebelahnya, dua bangunan megah tersebut layaknya satu kesatuan ikon kota. Bangunan masjid memadukan dua gaya arsitektur yang umum digunakan pada masjid-masjid di Indonesia, yakni arsitektur berciri khas Nusantara dan Arab. Hal ini jelasterlihat dari kombinasi atap utama berbentuk limas dan tujuh kubah berbentuk bulat sebagai pendamping di sekelilingnya.

Dari luar, masjid tampak megah namun bersahaja karena memainkan kombinasi dua warna, putih dan abu- abu muda. Tidak banyak detail aksen di sekujur tubuh bangunan, hanya model hias kerawang dan relung tangga masuk masjid yang berbentuk lancip. Bagian dalam masjid juga menampilkan kesederhanaan. Dinding masjid dilapisi cat berwarna putih bersih. Adapun dinding bagian depan tempat mihrab berada tetap menggunakan warna dasar putih, namun dilengkapi dengan elemen hias berupa aksen berwarna emas.

Mihrab masjid didesain tidak seperti umumnya masjid-masjid yang memiliki relung ruang tambahan. Mihrab pada Masjid Agung Baiturrahman ini dibedakan dengan menggunakan relief dinding berbentuk kotak dengan ragam hias kaligrafi dan motif batik. Kombinasi warna emas dan hitam menjadikan mihrab terlihat mewah. Di sisi kanan dan kiri mihrab pun terdapat relief berbentuk kotak, namun dengan garis tengah yang lebih kecil dan bentuk ragam hias yang lebih sederhana. Relief pada kedua sisi ini memang ditempatkan sebagai pendamping mihrab serta memberikan tambahan suasana megah di dalam ruang.

Tepat di depan mihrab terdapat mimbar yang didesain seperti bentuk mimbar Ar-Raudah, yakni mimbar yang pernah digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk berdakwah. Tiang mimbar menggunakan ragam hias ukiran segi lima dan motif bunga yang juga berjumlah lima buah. Angka lima ini menyimbolkan lima kerajaan yang ada di Gorontalo. Selain digunakan dalam kegiatan ibadah shalat rutin, Masjid Baiturrahman juga memiliki beberapa aktivitas rohani lainnya, seperti pelaksanaan hari-hari besar Islam, majelis taklim, TPA, perpustakaan, dan sebagainya.

Masjid Hunto Sultan Amay

 
Masjid Hunto adalah salah satu masjid tertua di Gorontalo (300 tahun). Masjid ini terletak di desa Siendeng di kota Gorontalo. Di masjid ini, ada sumur dan beduk  yang memiliki umur sama seperti Mesjid itu sendiri. Hunto Sultan Amay merupakan Mesjid tertua di Gorontalo. Mesjid ini berdiri pada tahun 899 Hijriah bertepatan 1495 Masehi. Dibalik tiang-tiangnya yang kokoh Mesjid ini memiliki kisah sejarah yang unik dan menarik untuk diketahui. H Syamsuri Kaluku yang biasa di sapa Pak Haji oleh masyarakat sekitar merupakan satu diantara jemaah yang mengetahui betul cerita berdirinya Mesjid tua itu. Ia mengisahkan dan mengungkapkan beberapa sejarah Mesjid Sultan Amay yang menjadi tempat pusat awal perkembangan agama Islam.

"Islam sebenarnya sudah masuk di Gorontalo semenjak 1300an Masehi, hanya saja perkembangannya nanti pada tahun 1490an tepatnya pada saat Mesjid ini berdiri," ujar Pak Haji mengawali kisah cerita Mesjid tua pada tribungorontalo.com, Minggu (24/7). Lanjutnya sebelum Mesjid tersebut berdiri wilayah yang kini telah menjadi Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo dipimpin oleh Raja Amay seorang pemimpin muda, ganteng, dan masih lajang. Raja dan para pengikutnya saat itu menganut kepercayaan animisme. Patung, pohon, dan hal-hal yang dianggap mistik merupakan sesembahan masyarakat saat itu. Sang Raja kemudian jatuh cinta pada putri raja. Putri Boki Antungo yang merupakan putri Raja Palasay, gadis cantik asal Mautong Sulawesi Tengah.

Berniat hendak meminang sang putri, Raja Amay kemudian mendatangi langsung sang Raja Palasay ayahanda sang putri. Ungkapan ingin memimang pun disampaikan langsung dan Raja Palasay menerima baik niat Raja Amay. Raja Palasay yang ketika itu merupakan pengikut agama Islam yang taat, kemudian mengajukan satu syarat kepada Raja Amay. Jika disepakati maka Raja Palasay merestui anaknya dinikahi Raja Amay. "Satu syarat yang diajukan yaitu Raja Amay harus masuk Islam dengan bukti Raja Amay harus mendirikan Mesjid," lanjut Pak Haji yang juga merupakan Pengurus Badan Ta'mirul Mesjid Hunto Sultan Amay.

Permintaan Raja Palasay kemudian disetujui oleh Raja Amay. Pembangunan Mesjid pun dilakukan di Gorontalo. Mesjid tersebut kemudian diberi nama Hunto Sultan Amay. Hunto singkatan dari Ilohuntungo berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam ketika itu. Sebelum menikah Raja Amay mengumpulkan seluruh rakyatnya. Raja Amay dengan terang-terangan mendeklarasikan diri telah memeluk agama Islam secara sah dan kemudian meminta seluruh pengikutnya untuk melakukan pesta meriah. Pada pesta tersebut Raja Amay meminta kepada rakyatnya untuk menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah adat. "Tepatnya dihalaman Mesjid ini, digelar pesta dan sumpah adat dengan hidangan babi, darah babi kemudian dijadikan simbol sumpah adat yang diteteskan dibagian kepala (jidat) dengan isi sumpah hari tersebut merupakan hari terakhir rakyatnya memakan babi," ungkap Pak Haji dengan semangat.

Usai proses sumpah adat, Raja Amay kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Pernikahan Raja Amay dan Putri Boki Antungo pun dilakukan di Mautong dan Mesjid Hunto Sultan Amay menjadi hadiah pernikahan Raja Amay kepada istrinya. Syekh Syarif Abdul Aziz ahli agama Islam dari Arab Saudi didatangkan langsung oleh Raja Amay untuk menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan sampai saat ini masih terbukti sebagian besar masyarakat Gorontalo menganut kepercayaan agama Islam atas upaya dari Raja Amay. Saat ini bentuk dan ukuran Mesjid Hunto Sultan Amay telah dipugar dan diperbesar tanpa menghilangkan keasliannya. Diantaranya mimbar yang biasa digunakan untuk berkhotbah dan tiang-tiang Mesjid yang masih kokoh berdiri serta ornamen-ornamen beraksen kaligrafi Arab.

Adapula bedug yang terbuat dari kulit kambing yang sudah mulai menipis dengan kondisi telah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga saat ini. Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya asli dan telah berumur lebih dari 600 tahun. Peninggalan asli lainnya adalah sumur tua yang hingga kini masih digunakan oleh jemaah dan masyarakat sekitar. Posisinya terletak di samping kiri mesjid, berdekatan dengan tempat wudhu. Sumur tua tersebut terbuat dari kapur dan putih telur Maleo dengan diameter lebih dari satu meter dan ketinggian mencapai tujuh meter. Kondisi cuaca Gorontalo yang sering dilanda musim panas berkepanjangan tidak mempengaruhi kondisi airnya yang terus melimpah dan jernih. Masyarakat setempat pun meyakini air sumur tua Mesjid Hunto Sultan Amay keramat dan sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.

Luas keaslian Mesjid 144 meter persegi tapi sekarang sudah lebih besar. Ukuran aslinya itu merupakan wilayah pusatnya dan masih tetap asli sampai sekarang. Dilakukan perbaikan dikarenakan sudah rusak dan dipercantik kembali tanpa menghilangkan keasliannya Area Mesjid yang telah diperlebar diantaranya dibagian depan dan sebelah kanan Mesjid yang dijadikan ruang shalat  wanita. Serta ada penambahan bangunan yang hingga kini dalam proses pembangunan di lantai dua. "Rencananya lantai dua juga untuk wanita, Insya Allah puasa ini sudah bisa digunakan," harapnya. Tidak hanya air sumur tua, Mesjid ini pun diyakini keramat sehingga banyak yang datang berkunjung dan berziarah. Tepat di mihrab berbatasan dengan tempat posisi Imam berdiri merupakan makam Sultan Amay.

"Ada batasnya dan sudah di atur antara kuburan Sultan Amay dan tempat posisi Imam berdiri biar tidak terkesan kita menyembah beliau (Raja Amay)," jelas pak Haji sambil menunjukkan posisi tempat imam dan kuburan Raja Amay berada. Lokasi mimbar tersebut sering mengeluarkan aroma yang harum alami tanpa pewangi buatan. Sedangkan dibagian belakang Mesjid merupakan kuburan tua termasuk Syekh-Syekh zaman dulu yang turut serta menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Bentuk keramat lain biasanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang datang dari kalangan peziarah. Biasanya dilihat dari tingkat keimanannya masing-masing, semakin tinggi imannya maka semakin tinggi pula ujiannya.

Berdasarkan pengalaman yang terjadi terdengar suara orang menangis di mimbar, ada yang melihat banyak orang lagi shalat tetapi sebenarnya tidak ada seorangpun didalam Mesjid. Bahkan ketika shalat sendiri tiba-tiba ada suara dari belakang membalas kata amin atau salam. "Cerita-cerita seperti itu datang dari orang-orang yang berkunjung kesini (Mesjid Hunto Sultan Amay). Kalau niatnya baik ujiannya lain semata-mata menguji keimanan tapi kalau tidak baik biasanya ujiannya tidak enak, seperti tidur sebaiknya jangan disini karena ini tempat ibadah," tutupnya.(susanty)

Masjid agung baiturrahim gorontalo


 
Masjid Agung Baiturrahim berdiri sezaman dengan pembangunan Provinsi Gorontalo. Masjid ini didirikan bersamaan dengan perpindahan ibukota Gorontalo dari Dungingi ke Kota Gorontalo. Pembangunan masjid dilakukan ketika Provinsi Gorontalo, yang kala itu masih berbentuk kerajaan, diperintah oleh Paduka Raja Botutihe (Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo) pada Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 Masehi. Sejarah berdirinya Masjid Agung Baiturrahim bertalian erat dengan sejarah pemerintahan adat di wilayah Gorontalo. Menurut data sejarah, Masjid Agung Baiturrahim didirikan di pusat Kerajaan Gorontalo atau disebut Batato. Daerah ini meliputi Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Poboide (Balairung/Balai Musyawarah), Loji (rumah kediaman Apitaluwu atau Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya/Bele Tolotuhu (rumah pejabat kerajaan).

Pada awalnya, Masjid Agung Baiturrahim dibangun dengan bahan baku yang terbuat dari kayu. Pada tahun 1175 H atau bertepatan dengan tahun 1761 M, Raja Unonongo melakukan renovasi dengan mengganti tiang-tiang masjid yang semula terbuat dari kayu dengan bangunan berfondasi. Selain itu, dinding masjid yang semula terbuat dari kayu diganti dengan dinding batu setebal sekitar 0,8 meter. Sejarah mencatat bahwa Masjid Agung Baiturrahim juga sempat rusak parah akibat terkena gempa bumi pada 1938. Kala itu, bangunan masjid dianggap tak layak untuk dijadikan tempat ibadah sehingga para jamaah terpaksa beribadah di bangunan darurat yang berada di dekat masjid. Keadaan tersebut berlangsung selama 8 tahun (1938-1946). Akhirnya pada 1947 dilakukan pembangunan kembali Masjid Agung Baiturrahim oleh Abdullah Usman, Pimpinan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga atau kala itu disebut BOW (Burgerlijk Operture Walken).

Selain renovasi-renovasi tersebut di atas, Masjid Agung Baiturrahim juga mengalami beberapa perubahan, baik bentuk fisik maupun kepengurusan (takmir) masjid. Perubahan-perubahan tersebut, antara lain pada tahun 1964, masjid ini mengalami perluasan dengan penambahan serambi pada bagian utara dan barat di bawah kepanitiaan yang dipimpin oleh T. Niode; tahun 1969 dibentuk panitia pelaksana harian masjid yang dipimpin oleh H. Yusuf Polapa, kemudian K.O. Naki, B.A. dan A. Naue, sekaligus pimpinan ibadah oleh Kadi Abas Rauf; pada 1982 dilakukan penambahan ruangan untuk jamaah wanita pada bagian selatan oleh Drs. H. Hasan Abas Nusi, Walikota Kotamadya Gorontalo.

Pada tahun 1988 dilakukan penataan pagar dan halaman oleh Drs. Ahmad Najamuddin, Walikota Kotamadya KDH Tingkat II Gorontalo; pada 1996 dilakukan penataan sumur bor sebagai tempat pengambilan air wudhu dan pendirian menara masjid oleh Drs. H. Ahmad Arbie, Walikota Kotamadya Tingkat II Gorontalo; dan terakhir pada 1999, ketika Gorontalo dipimpin oleh Drs. H. Medi Botutihe, dilakukan pemugaran total Masjid Agung Baiturahim yang menghabiskan dana sekitar Rp. 3 Milyar. Usai dipugar, Masjid Agung Baiturrahim diresmikan oleh Presiden Baharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, pada 3 Rajab 1420 H atau bertepatan dengan hari Rabu, 13 Oktober 1999.Masjid Agung Baiturrahim hingga saat ini ditahbiskan sebagai masjid terbesar se-Kota Gorontalo. Selain terbesar, masjid ini juga merupakan masjid tertua di wilayah Kota Gorontalo. Masjid ini didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo oleh Paduka Raja Botutihe (Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo) pada Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 Masehi.

Status sebagai masjid tertua membuat bangunan ini layak dijadikan sebagai obyek kajian bagi Anda yang ingin berwisata sekaligus belajar atau sekadar mengenal tentang sejarah Gorontalo. Perpaduan arsitektur antara timur tengah dan budaya asli Gorontalo membuat masjid ini cukup unik sebagai tempat wisata religi. Selain itu, predikat sebagai masjid tertua tampaknya tidak terkesan di tempat ini. Pasalnya bangunan masjid adalah bangunan modern yang terlihat megah dan anggun sekaligus cukup mencolok karena berada tepat di jantung ibukota Provinsi Gorontalo.  Masjid Agung Baiturrahim terletak di pusat Kota Gorontalo, Provinsi GorontaloAkses menuju Masjid Agung Baiturrahim sangat mudah karena lokasi masjid ini berada tepat di jantung Kota Gorontalo. Dari berbagai tempat, misalnya bandar udara, pelabuhan, hingga terminal bus, lokasi Masjid Agung Baiturrahim sangat mudah dijangkau, baik menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum, semisal becak motor (bentor).

Senin, 21 November 2011

kota Tilamuta
















Kabupaten Boalemo dengan ibu kota Tilamuta merupakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Gorontalo pada tahun 1999. Kabupaten Boalemo dibentuk pada tanggal 12 Oktober 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kabupaten Boalemo. 

ada lima kecamatan di wilayah Kabupaten Boalemo ini pada tahun 1997 diperkirakan berjumlah 94.824 jiwa, dengan tingkat kepadatan sekitar 38 jiwa/km². Sedangkan menurut data yang diperoleh dari Gorontalo Post, tanggal 24 November 2006 (berdasarkan data pemilihan gubernur tahun 2006), jumlah penduduk Kabupaten Boalemo adalah 119,978 jiwa, dengan luas 1,521.88 km² dan tingkat kepadatan penduduk 79 jiwa/km².

Sesuai dengan hasil data Sensus Penduduk 2010 (Mei 2010), luas wilayah Kabupaten Boalemo adalah 2.567,36 km² atau 21,02% dari luas Provinsi Gorontalo, dengan jumlah penduduk 129.177 jiwa, dan tingkat kepadatan penduduk 50,32 jiwa/km².

Menurut data terakhir (September 2011), Kabupaten Boalemo terdiri atas 7 wilayah kecamatan, yaitu: Botumoito, Dulupi, Mananggu, Paguyaman, Paguyaman Pantai, Tilamuta, dan Wonosari, serta 2 kelurahan dan 81 desa.

Kota Limboto






















Limboto adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Indonesiadari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo. Limboto juga ibukota kabupaten Gorontalo. Terletak di 0,30 derajat Lintang Utara, 1,0 derajat Lintang Selatan, 121 derajat bujur Timur dan 123,3 derajat Bujur Barat.Kabupaten Gorontalo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Gorontalo, Pulau Sulawesi yang merayakan hari jadinya setiap tanggal 26 November, terhitung sejak tahun 1673 atau (16 Syakban 1084 Hijriah).

Kabupaten Gorontalo dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi dengan ibu kota semula Isimu. Pada tahun 1978 ibu kota Kabupaten Gorontalo dipindahkan ke Limboto. Ada sebagian data pada atlas atau peta yang memuat ibu kota Kabupaten Gorontalo adalah Isimu. Jelas hal tersebut tidak sesuai dengan realita dan fakta yang ada di lapangan saat ini.

Sampai dengan tahun 2011, Kabupaten Gorontalo sudah mengalami tiga kali proses pemekaran. Pertama, tahun 1999 yang melahirkan Kabupaten Boalemo; kedua, tahun 2003, yang melahirkan Kabupaten Bone Bolango; dan ketiga, tahun 2007 yang melahirkan Kabupaten Gorontalo Utara.